MASA PEMERINTAHAN MAHARAJA SRI LANGKA DEWA DI MUARA KAMAN DAN BERDIRINYA KERAJAAN KARANG SARI PINANG SENTAWAR di melak

MASA PEMERINTAHAN

MAHARAJA SRI LANGKA DEWA  DI MUARA KAMAN DAN BERDIRINYA KERAJAAN KARANG SARI PINANG SENTAWAR di melak



Maharaja Indra Mulia Tunggawarman Dewa Menjadi Raja Muara Kaman. Dan Sejarah Pemerintahan Maharaja Nala Indra Dewa Memerintah Dari Tahun 1069-1117 Masehi Dan Digantikan Oleh Putrinya Maharatu Mayang Mulawarni Memerintah (1117-1166), Dan Digantikan Adiknya Maharaja Indra Mulia Tunggawarman Dewa Dari Tahun (1166-1214 Masehi) Adapun Putranya  Bernama Maharaja Srilangka Dewa Menjadi Raja Muara Kaman Melahirkan Maharaja Guna Perana Tungga Menjadi Raja, Memiliki Adik Perempuan Bernama Mahaputri Natadewi Kencanapuri Diperisteri Oleh Ape Bongan Tana Alias Sangkariak Kebon Putra Gah Bongan Dan Isterinya Gah Bonggek Adalah Putra Raja Bola Bongan Dayak Benuaq Isui Di Jempang Sungai Ohong Yang Mana Rajanya Bernama Hirong Soga Tana Yang Kelak Memiliki Cucu Bernama Geregas Pati Atau Aji Tulur Dijangkat Anak Sangkariak Kebon, Pendiri Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Di Melak Menyatukan Benuaq Dan Tunjung.

 Orang Tunjung dan Benuaq Tidak Bisa di pisahkan dari Keberadaan Orang Pantun yang Menjadi Para Keturunan Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Karena Mereka Bukan Kaum sembarangan dan Mereka Adalah Kaum Ningrat Dan Orang Orang Terpelajar dan Di Hormati dan Mereka adalah  Para Penjunjung Setia Maharaja Sri Kudungga Dalam Bahasa Mereka Menyebutnya  Merajaq Kudukng yang mana Artinya Raja Pelindung Bagi Mereka dan Mereka Mendapat Hak Yang Merdeka dan Diberi Kuasa Wilayah-Wilayah Guna di Pelihara turun Temurun untuk kepentingan Bersama Rakyat dan Maharajanya dan Juga untuk Turunan selanjutnya.

 Sangkareak Adalah Pimpinan Pelaksana Tugas Ritual Dan Merupakan Pemelihara Tempat Peribadatan serta Semacam Universitas Tempat Anak-Anak Para Raja di Didik dengan Segala Keilmuan Serta Bertugas Menjaga Serta Mengelola Hutan Tanah dan Danau, Sungai Telok dan Tanjong Milik Kerajaan Dulu Kala Semasa Maharaja Kudungga atau (Raja Kudukng) Datang Dari Campa (Cambodia) Kudungga Membawa Beberapa Rombongan yang Diberi Tugas Sebagai Bangsawan Tinggi, Karena Mereka Orang Pandai, Ahli Mantra dan Ahli Agama dan Mereka Mendapat Tugas Sebagai Pelaksana Upacara Adat Kematian, dan Kehidupan Tatacara Bercocok Tanam dan Upacara Kelahiran Serta lain Sebagainya Mereka di Sebar dibeberapa Daerah seluruh Kalimantan dan mereka di membangun Rumah Panjang di setiap Benua Sesuai Tugas Disanalah tempat segala Aktifitas mereka yang diberi tugas oleh Raja Kudukng yang menjadi Pimpinannya.

 Catatan Ini Didapat Dari Seorang Perempuan Dari Jepang Yang Menjadi Dosen Di UNMUL Samarinda Ketika Bertemu dengan Maharaja Kutai Mulawarman, Dia Menyerahkan Catatan Penelitianya Hampir Selama 20 Tahun Katanya Mencari Tau Tentang Asal Usul Dayak Benuaq Tunjung.

 Ada Suatu Kejadian Diabad ke-13 Terjadi peristiwa Kedatangan Utusan Raja Majapahit dari Keturunan Raja Di Kerajaan Singhasari (Jawa Timur) yang di pimpin oleh Seorang bernama Raden Koesoema dan mulai melakukan blokade Muara Sungai Mahakam dan menguasai daerah bernama Tanjung Riwana atau Kutai Lama sekarang Mereka mengadakan penyerangan terhadap para Petingi-Petinggi dan telah menguasai Wilayah Petinggi Hulu Dusun serta membelokade Kapal-Kapal Naga Cina yang melakukan perdagangan ke Hulu Mahakam hingga terjadi peperangan dengan Wangkang-Wangkang dan Jong-Jong yang Merupakan Kapal-Kapal Dagang Cina yang berlambang Naga di setiap Upacara Erau Kesultanan Kutai Kertanegara di Tenggelamkan di Tanjung Riwana (Kutai Lama) Dahulu mereka membangun pangkalan Militer sehingga di beri hak kuasa sebagai Pimpinan Batara (Batara Adalah Raja Utusan Kerajaan Wilwatikta atau Majapahit) maka Raden Koesoema di Anugerahi Gelar Batara Agung Dewa Sakti  Karena Sebagai Keturunan dari Raja Kertanegara di Kerajaan Singhasari.

 Tersebutlah Seorang Sangkareak Di Sungai Ohong Penguasa Dari Bongan sampai di Tanjung Isui Mancong Bernama Hirong Sorga Tanah Yang Melahirkan Putra Bernama Gah Bongan Beristeri Gah Bongek dan melahirkan 8 orang anak antaranya 1. Igas, 2. Laca, 3. Lani, 4.Inggih, 5. Ijuq, 6.Laman, 7. Dakaq 8. Kebon. dan diantara anaknya yang menjadi Sangkareak adalah  Kebon diberi Gelar Ape Bongan Tanah Diambil Menantu Oleh Maharaja Langka Dewa Yang Berada di Muara Kaman bernama Mahaputri Natadewi Kencana Puri Yang Melahirkan Geregas Pati Oleh Orang Kutai Lama Menyebutnya dengan Nama Aji Tulur di Jejangkat yang diyakini orang tunjung sebagai Keturunan Nayuk Tonyoy, Putra Nayuk Tarukng Bulatw, Anak Nayuk Benturukng Uraq, yang merupakan Keturunan dari Nayuk Gemulur Langit Putra Nayuk Raja Inu yang dilahirkan oleh Nayuk Raja Usetr, dari Nayuk Raja Nentatkng, anak Nayuk Sengkelalik Alatkng, keturunan Nayuk Retkng Gontetkng Putra Nayuk Nulent Nga'Ngangan Anak Putri Nayuk Lesayakw Bulantn (Dewi Bulan) dan merupakan Putra Nayuk Lesayakw Olo (Dewa Matahari).

 Orang Tunjung dan Benuaq Sangat terkait satu sama lainya hidup berdampingan mereka tidak dipisahkan dalam kesukuan seperti kehidupan sekarang, di sebut Dayak karena mengecilkan dan ingin melupakan bahwa mereka ini adalah bagian orang pendatang. Mereka bukan pendatang dan Mereka adalah penduduk yang sudah ada sejak Kerajaan Tertua Nusantara ini di Bangun sejak Maharaja Sri Kundungga mereka  penduduk yang menjadi orang Intelektual menguasai Sastra dan Mantera dan Hukum2 di wilayah Kerajaan pada saat itu.

 Nama Sagara dan Vravatam sadiva Malaya tertuang di Prasasty Yupa itulah kerajaan Kutai Kuno ini sebenarnya kerajaan Protomalay (Melayu Tua) Dan Pembuktianya bahwa orang Tunjung dan Benuaq serta Pantun adalah Pribumi dan Mereka inilah yang Menjalankan Kehidupan Sosial Politik dalam Kerajaan di Masa Lalu sebelum datangnya orang Jawa dari Singosari dan Penjajah Belanda yang mengakibatkan terkotak-kotaknya Orang Kerajaan Ditanah Kalimantan Timur.

 Mengenal Jabatan Kemuduk Bagaikan Anjing Menyalak Karena Kemuduk Adalah Pimpinan  Keamanan baik menjaga Keamanan Kota, Sungai serta Kebon-Kebon serta Tanaman lainya hingga Keamanan Tambang Emas dan tambang lain juga Sebagainya Milik Kerajaan Kutai Kuno dan mereka ini merupakan Para Pengawal Raja Kudukng yang di bawa dari Dongson takala Maharaja Kundungga ( Merajaq Kudukng) masih Pulang Pergi Ke Campa Menjumpai Kakaknya Bernama Maharaja Radjendera Warman sebagai Raja di Negeri Amarapati (Gemilang Kaca) karena mengantar hasil Tambang Emas dan Bumi serta Alam Naladwipa untuk di perdagangkan Para Kemuduk ini memiliki Pengikut-Pengikut dan mereka Rata-Rata Kalangan Kesatria Ahli dalam Perang dan dan menggunakan Senjata karena sesuai tugasnya sebagai Penjunjung Setia dan mengabdi pada Negara mereka diberi julukan orang Tunjung karena itulah mereka ini memiliki strata Bangsawa setingkat Raja.

Para Kemuduk ini diyakini adalah Turunan Jakar putra toar yang punya ibu bernama Puko Putri dari Gabu yang lahir dari Tobekng anak Putri Tae atau Toe anak dari Kece alias Kuce  Keturunan Hake Putra dari Hanok yang merupakan anak Narik ibunya bernama Sia anak Putri Punekn dari Taman Rikukng Merajaq Potetk Konakt Merajaq Tonyoy.

 Karena itulah Orang Tunjung Hampir Tidak Memiliki Budaya Tata Cara Upacara Adat yang Menonjol di karenakan mereka lebih banyak mendapat batuan urusan Ritus dari Orang Benuaq yang dipimpin Sangkareak sebagai Pimpinan tertingi dalam Tugasnya di Kerajaan di Martapura (Kutai Kuno).

 Disebuah Daerah bernama Larak Kota di Ratau Batu Gonali dipimpin oleh seorang Kemuduk bernama Suma Melahirkan Anak Antaranya Bengko, Kandang, Murunq, Jumai, Jongge, Madar, Dan Bulan, Beran. Putra Kemuduk Suma bernama Bengko Menjadi Kemuduk Dengan Gelar Naga Salik Memperisteri Mahadewi Randaya Bunga Yang Adalah Putri Dari Maharaja Guna Perana Tungga dari Muara Kaman Melahirkan Muk Bandar Bulan.

 Atas Persetujuan Maharaja Turunan Mulawarman Bernama Sri Langka Dewa Memerintah dari Tahun 1214-1265M, Pada saat itu maka Geregas Pati yang Kawin dengan Muk Bandar Bulan di Berikan hak Membangun sebuah Kerajaan Untuk Menyatukan Para Sangkariak dan Kemuduk, yang mana nantinya untuk menjadi tempat pertahanan di hulu Mahakam jika serangan dari tanah Jawa semakin besar, dan Kerajaan baru itu di beri nama Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar di Perintah Geregas Pati yang Permaisurinya Adalah Muk Bandar Bulan Bergelar Mahaputri Ringsa Bunga dan melahirkan anak bernama Sulas Guna, Nara Guna, Jeleban Bena, Puncan Karna.

Sebelum Masa Sulas Guna Menjadi Raja di Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar dibantu adiknya bernama Nara Guna. Maka adiknya Puncan Karna di minta menjadi utusan damai karena itulah Puncan Karna memperisteri Anak Aji Batara Agung Paduka Nira (Pimpinan Batara Kertanegara dari Singhasari di Tanjung Riwana) Kutai Lama Atas Sumpah Puncan Karna Anak Keturunanya Tidak Boleh Menyerang Kerajaan Di Muara Kaman dan Ulu Mahakan Hingga Sampai Kedatangan Orang Belanda Melakukan Serangan Di Abad Ke 17 Yaitu Tahun 1635 Kejadian Ini Terkait Dengan Perjanjian Sultan Intan Dari Banjar dan Berlanjut Dengan Perjanjian Bongaya di Sulawesi Dan Juga Pengaruh Perjanjian Antara Pangeran Kutai Kartanegara Saat Belanda Datang Dengan 2 Buah Kapalnya Pemburu Dan 5 Kapal Lainya Ke Sungai Mahakam Yang Dipimpin Kapten Thomas dan Kapten Van Hays.

 Kembali Ke Masa Pemerintahan Raja Sulas Guna Orang Tunjung Dan Benuaq masih Disatukan dibawah Panji Karang Sari Kerajaan Pinang Sentawar, dan Berjalan baik diteruskan oleh Selutantn Gantukng Langit Menjadi Raja ke 3 Kemudian Ima Giriq Gelar Selutantn Inaar Giriq Menjadi Raja ke 4, Melahirkan anak bernama Selutantn Pejapm Menjadi Raja ke 5, Dan Terutn, anak Selutantn Pejapm Bernama Soreq Lebiq Menjadi Raja ke 6, Hajiq Mahing Menjadi Raja ke 7, digantikan anaknya bernama Entokt Gelar Merajaq Tonyooi Menjadi Raja ke 8 Melahirkan Hajiq Mahing Menjadi Raja ke 9, melahirkan anak dua orang Tiukng belaki Rendi dan Tingakng Bebini Tukaw Menjadi Raja 10 Melahirkan Angin Menjadi Raja Perempuan ke 11 Belaki Ketikng Melahirkan Men Uyakng Belaki Geruqkng Raja ke 12 tidak Melahirkan Anak, Men Uyakng Belaki Radentn Tusuk (adalah Anak Lingay Gelar Raden Selikatn Putra dari Ririh Gelar Radent Baroh Putra dari Pateh Pogar Anak Tengkaktn Marenek Anak Bantikng Mangkubakng dari Keturunan Tingkung Meluluy Putra dari Raja Sulas Guna). Dimasa Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Diperintah seorang Raja Wanita Bernama Men Uyakng Belaki Geruqkng Raja ke 12 Gelar Raja Manik. sejak itu Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar ini sering di Ganggu oleh Pasukan Batara Kutai Kartanegara Pada abad ke-15 Masehi.

 Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar terpaksa membuat perjanjian damai dari penguasa Kutai Lama, Alasanya keempat orang yang ahli bertempur itu tidak akan pulang ke tanah Sentawar. Isi dari perjanjian itu sebagai berikut;  1. Pihak Batara Kutai Kertanegara mengembalikan daerah taklukkanya tanah Sentawar, kepada orang Tunjung. 2. Batara Kutai Kertanegara tidak akan lagi menyerang tanah Sentawar. Hal inilah Akhirnya menjadi Petaka berkepanjangan Bagi Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar, Alasan Karena tidak mau yang dianggap fihak melanggar perjanjian serta tidak mau mengambil resiko yang besar, maka Batara Kutai Kertanegara mengangkat Orang Tunjung sebagai perwakilanya. Mereka ini mempunyai tugas-tugas sebagai berikut; 1.Mengkoordinir dan mengumpulkan upeti ( Kembang tahun ) lalu diserahkan dan dibawa kepada Kutai Kertanegara setiap tahunnya. 2. Menggerakkan rakyat agar bekerja paksa di istana Kutai Kertanegara dan sekitarnya setiap tahunnya. 3.Gunung Pedidik di Kota Tenggarong adalah sisa bekas peninggalan kegiatan itu. Atas jasa dan pengabdian terhadap Kutai Kertanegara itu, maka penguasa Kutai Kartanegara menganugerahkan gelar kehormatan mereka. Nama gelar-gelar itu adalah; 1. Temenggung. 2. Radentn. 3. Mangku. 4. Singa Mas / Macan. 5. Karti dll.

 Pada  Tahun 1635 M Kerajaan Muara Kaman  di Serang Kapal VOC Belanda Dan Sekutunya Dari Muara Mahakam maka terjadi Tekanan dari Penguasa Kutai  Kertanegara Pada saat itu dibawah pemerintah VOC Belanda terhadap Orang Tunjung dan Benuaq yang membuat larangan tentang kebiasaan (adat) mereka mengayau (memotong kepala), lalu orang Tunjung ini berpindah dan menyebar kepedalaman atau tempat yang berjauhan satu sama lainnya.

Akibat penyebaran itu terjadilah perbedaan logat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapi tidak begitu mendasar. Akibat penyebaran ini sehingga terjadi berbagai macam jenis yaitu Orang Tunjung 1. Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, Baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya. 2. Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru dan Lama). 3. Tunjung Bahau, Mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya. 4.  Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya. 5.Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya. 6.Tunjung Linggang, mendiami didaerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, Lakan Bilem, Into Lingau, Muara Batuq dan wilayah sekitarnya.7. Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kembang janggut, Kelekat, dan Pulau Pinang.

 Setelah Raja Men Uyakng  Memerintah Kerajaan Karang Sari Pinang Sendawar Maka terjadi Perubahan dan Raja Men Uyakng Belaki Radentn Tusuk melahirkan dua orang anak bernama Terutn  Gelar Radetn Gelumakng Menjadi Pengganti Raja Men Uyakng dan Medetn gelar Radetn Nyerakat tidak Memerintah akan tetapi  Anaknya bernama Jangkat gelar Empok Tang Memerintah Yang Melahirkan Giri yang berputra Radetn Enpok Dehang Memerintah. Sedangkan  Anca adik Empok Tang gelar Empok Badas tidak Memerintah melahirkan Keturunan Bakng Empok Turaky melahirkan Jeliban Empok Tulis berputra Jangkat Taman Galoh yang Melahirkan Paran beranak Ujukng yang Berputra Lahakt dan Lomos gelar Mas Puncan Memerintah.

Silsilah Terutn  Gelar Radetn Gelumakng Menjadi Pengganti Raja Men Uyakng melahirkan tiga orang anak antaranya Ginang Gelar Raetn Tebak memerintah yang belum di ketahui keturunanya sedangkan adiknya Utek gelar Raja Untak tidak di ketahui keturunanya dan yang meneruskan keturunan adalah Riak Adak Memerintah melahirkan Riak Gadang bebini Jengak, Memerintah melahirkan Badas Tambungah memerintah beristeri Epak melahirkan  anak  antaranya Bungay Empok Bonoh memerintah bebini Intan yang merupakan anak Kolak gelar Empok Emaks Memerintah, Intan melahirkan  Emaks Gelar Dayang Bayakn belaki Sultan Kutai Kartanegara sedangkan saudaranya bernama Ajakng gelar Empok Baluy memerintah melahirkan Timakng Gelar Kerta Pati Memerintah di seberang Meraya melahirkan Kerta Tulur.

 Sedangkan Sinum saudara perempuan dari  Bungay gelar Empok Bonoh memiliki Saudara bernama Sinum yang melahirkan Neki  Belaki Roget gelar Gajah di Bentian Melahirkan Singa Dalek bebini Bekotk melahirkan  anak anataranya  Urang gelar Riak Tegaky memerintah adiknya Lain Ibunya Bernama Kedek melahirkan Pemuhuk gelar Sri Puncan memerintah melahirkan Ngenakng berputra Kamarling, dan seorang perempuan bernama Panaw di peristeri oleh Singa Bontik dari Bentian melahirkan Singa Tuahekw. Adapun Didi” saudara Neki anak Sinum  melahirkan anak bernama Ongkok memerintah melahirkan Biowo beranak Aning melahirkan Amakn.

 Adapun Dengakn Anak Didi” Melahirkan Ningkah yang berputra Tejutn dan Mempunyai anak bernama Loyatn Memperisteri Dokek melahirkan Kerongok memerintah yang bebini Kidong melahirkan Rensius Kepala Adat. Adapun Silsilah Kidaong adalah Anak Luih gelar Mas Guna Bersaudara dengan Riau Bebini adik Dokek bernama Ruwey Melahirkan Patih yang Berputrakan Sabransyah Kepala Desa (KS) Silsilah Luih adalah Putra Lahant anak Ujukng yang Juga punya anak nama Lomos gelar Mas Perana.

 Silsilah Ima Giriq Gelar Selutantn Inaar Giriq Menjadi Raja ke 4, Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Melahirkan anak bernama Selutantn Pejapm Menjadi Raja ke 5, Dan Terutn, yang melahirkan anak dua orang bernama Luih  Yang beranak dua orang Dahi dan Merajak yang Melahirkan Inas. Sedangkan Adik Luih Bernama Lingai Melahirkan Bena beranak Bulatn Berputra Gerukng memiliki dua anak antaranya Tejutn belum diketahui keturunanya sedangkan Kakaknya bernama Anekng Berputra Osakw, Melahirkan Tek berputra Umut berana Kuay melahirkan Mangku Gasikng berputra Kewek Gelar mangku Sari yang melahirkan Lebay gelar Mangku Jaya  beranak dua orang yaitu Jelinap yang Menurunkan Bupati Kubar Pak Thomas dan anak ke dua Merah gelar Mangku Jaya berputra Ngaang Poy di Linggang Malampeh serta Y. Dullah gelar Mangku Jaya di Linggang Bigung.

 Suku Dayak Tunjung ini Bertujas Untuk Memperbaiki dunia yang sudah rusak Artinya Menjaga Alam Yang Sebutan “Jaruk'ng Tempuq”. Jaruk'ng adalah nama dewa yang menjadi manusia dan Nempuuq atau Tempuuq berarti terbang. Nama suku Dayak Tunjung ini menurut mereka adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas Malikng Panguruu Ulak Alas yang artinya Suku Tunjung adalah paahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung. susunan pelapisan social masyarakat tunjung pada zaman dulu adalah :

 1. Hajiiq (Golongan Bangsawan), mereka terdiri dari raja beserta keturunannya, pemengkawaaq (pengawal raja) dan mantik tatau ( bawahan pemengkawaaq yang berhubungan langsung dengan rakyat) dengan semua keturunanya.

 2. Merentikaq merentawi disingkat merentikaq (golongan merdeka atau golongan biasa) mereka tidak termasuk golongan hajiq ataugolongan hamba sahaya. Golongan merentikaaq ini mempunyai hak untuk menarikan Tarian Calant caruuq, karena mereka keturunan asli dari Sengkereaq.

 3. Ripat (hamba sahaya), golongan ini mengabdikan diri pada Golongsn hajiiq.

 Tokoh-tokoh Suku Dayak Tunjung Dr. Yurnalis Ngayoh, mantan Gubernur Kalimantan Timur. Ismael Thomas, mantan Bupati Kabupaten Kutai Barat 2006 - 2011, 2011 - 2016. Y. Dullah. Ketua Presidium Dewan Adat, Kutai Barat. Drs Thomas Edison M.Si., Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI Jakarta. Prof. Dr. Louren Edison, Dosen Pasca Sarjana UNAIR Surabaya. Kolonel Yohanes Ubad, Mantan Mawil hansip Bankalan Madura (almarhum). Dr. Elyas Malat, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pelita harapan Jakarta. Samsudin, Saudagar/Pengusaha di Jakarta (almarhum). Yahya Ibung, SH., tokoh Dayak Tunjung di Balikpapan. Drs.Melki Kamuntik, MA., Kepala Bimas Kriten Protestan Kaltim. Dr. Samson, Dosen Unmul Samarinda. Dr.Theresia Malat, Dosen Unmul Samarinda. Dr. Adrianus Inu Natalisanto, Dosen Unmul Samarinda dan salah satu pemenang Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional 2016.

 

 Penganugerahan Gelar Kepada Para Pemimpin Dayak se Kalimantan di Pampang Samarinda





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Pendiri Negara Kerajaan Pertama Di Nusantara