SILSILAH RAJA-RAJA DI MUARA KAMAN KERAJAAN KUTAI MULAWARMAN BERDIRI DI TAHUN 0017- 2021 MASEHI
SILSILAH RAJA-RAJA DI MUARA KAMAN
KERAJAAN KUTAI MULAWARMAN
BERDIRI DI TAHUN 0017- 2021 MASEHI
Di Dalam Naskah-Naskah Kuno Di Jawa Dan Berita Dari China Menyebut Pulau Kalimantan Dengan Tai Ping Huan Yu Chi Atau Istilah Chin Lin Pi Shih Artinya Nusa Kencana Dan Dalam Kitab-Kitab India Menyebutnya Nusa Ratnadwiva Dan Nusa Naladwiva Pada Masa itu Kerajaan Ibukota di Tebalariung Istana Maharaja Berada Di (Tebalariung) Tebalai Indah Yang Berasal Dari Dialek Balai Riung Sebutan Untuk Bangunan Istana Di Kota Kerajaan Dijaman Dulu Bahwa Bangunan Istana Adanya Di Tebalai Indah Muara Kaman Sekarang.
Kata Balai Artinya Istana Dan Riung Adalah Singasana Maka Balai Riung Adalah Kawasan Bangunan Istana Oleh Dialek Sekarang Di Sebut Tebalai Sekarang Tempat Itu Di Sebut Tebalai Indah Yang Adalah Pusat Pemerintahan Dizaman Maharaja Sri Kundungga Berkuasa Yaitu Pemerintahan Raja-Raja sebelum Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Berkuasa dan Membangun Beberapa Tempat Pemujaan Di Bukit Yang Sekarang Dikenal Dengan Bukit Martapura Disitu Tempat Patung Lembu Andini Berada Warga Setempat Menyebutnya Patung Kepala Babi, Sayangnya Patung Lembu Andini Yang Ada Di Bukit Martapura Sudah Mengalami Kerusakan Parah Dan terbelah Dua Dan Terpendam Kedalam Tanah Karena Pengalian Harta Secara Ilegal Terjadi Di Tahun 1990an.
Nama Kutai Dikenal Dalam Dialek Dari Kata Quwitaire Artinya Belantara Dan Kata Kho–Thay Dalam Bahasa China Sebutan Ini Mengandung Arti Sebuah Negara Kerajaan Yang Memiliki Berbandar Besar, Ini Di Muat Dalam Buku H. Syaukani. HR, Adalah Panitia Dicussion Panel Sejarah Kutai Tahun 1972 Di Tenggarong, Beliau Juga Menyerahkan Sekumpulan Dokumen Kepada A. Iansyah Rechza. F. Sewaktu Menyusun Makalah Sejarah Kebudayaan Kutai Untuk Mengikuti Penelitian Ilmiah Remaja Tahun 1997 Dan Menerima Penghargaan Dari Departemen Pendidikan Menengah Dan Umum Republik Indonesia.
Mengenai Silsilah Raja Memerintah di Muara Kaman Tercatat Sebanyak 22 Raja Memerintah Catan ini Didapati Didalam Beberapa Makalah Dan Buku Juga Menjadi Sumber Penulisan Tentang Salasilah Kutai oleh D. Adham Yang Diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PPS/ht/5/80 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1981, Dan Di Jelaskan Bahwa Silsilah Raja-Raja Di Muara Kaman Didapat dari Maharaja Indra Mulia Sebagai Raja Yang Masih Bertahta Di Saat Itu Di Muara Kaman Dan Mengisahkan Hal Ini Saat Bertemu Aji Maharaja Sultan Sebelum Berangkat Ke Kerajaan Wilwatiktha (Majapahit) Atas Undangan Perkawinan Hayam Huruk Dengan Putri Dyah Pitraloka.
Beliau Menceritakan Dengan Jelas Kepada Aji Maharaja Sultan Saat Sebelum Keberangkatan Mereka Ke Majapahit Dan Bukan Nama-Nama Raja Yang Di Sebutkan Oleh Penulis Lain Bahwa Silsilah Itu Didapat Dari Nyayau Belian Itu Tidak Benar, Jelas Silsilah Itu Jelas Dari Penuturan Seorang Raja Bukan Dari Tukang Belian dan Itu Dituangkan Kedalam Silsilah Kutai Yang Bertepatan Dengan Peristiwa Bubat Antara Majapahit dan Pajajaran.
Raja Kutai Kuno Berkait Silsilah Dengan Raja-Raja Di India Yang Menurunkan Raja-Raja Tertua Di Nusantara Indonesia, Berita Bermula Dari Masa Kerajaan Di Maghada Dilembah Sungai Gangga Diperintah Oleh Maharaja Susunaga. Maharaja Bimbisara. Maharaja Ajatasatru. Ibukota Berpusat Di Petaliputra Yang Diserang Pasukan Iskandar Zulkarnain Dari Mecedonia Pada Tahun 327 Sebelum Masehi Kemudian Kerajaan Ini Diteruskan Oleh Kerajaan Maurya Dan Kerajaan Gupta Dimasa Akhir Kerajaan Ini Di India Terjadi Kekacauan Karna Diserang Bangsa Huna (Syiung Nu) Kajian Kajian Ini Tertuang Dalam Sejarah Nasional Dan Umum Kurikulum 1994.
Pada Awal Abad Masehi Di Kalimantan Berdiri Sebuah Kerajaan Yang Bernama Kerajaan Vravatam Sadiva Malaya Atau Lebih Dikenal Dengan Kerajaan Malaya Dan Kemudian Bernama Kerajaan Sagara, Wilayahnya Disebut Malay Atau Malaya Kata Malay Ini Diartikan Malaya Atau Me-lo-yo Logat China Atau Melayu Logat Sekarang, Yang Merupakan Orang Pribumi, Namun Kerajaan Malaya Yang Menguasai Perdagangan Dilaut Makanya disebut Juga dengan Nama Sagara, Adapun Kerajaan Diperkirakan Berdiri Pada Tahun 17 Masehi, Letaknya Berada Diselatan Wilayah Raja Singkarak di Lahat Datu Sekarang dan Merupakan Batas Kawasan Kerajaan Tanah Tidung dan Negeri Sabah Malaysia Yang Dulu pernah menjadi Wilayah Kesultanan Barunai Darusalam yang mana mereka ini adalah keturunan Suku Bangsa Niah di Barunai Dan Niah Di Miri Sarawak.
Di Sabah Merupakan Wilayah Negeri di Malaysia Timur, Raja Singkarak Adalah Asal Dari Masyarakat Lahat Datu Yang ada Di Utara Kalimantan Sekarang Merupakan Kerajaan Kuno Di Tanah Sabah Malaysia, Yang Juga Kerajaan Tersebut Merupakan Gerbang Perdagangan Dengan Kerajaan Lin Yi Orangnya Berbahasa Cam, Dibangun Pada Tahun 192 Masehi Kerajaan Ini Disebut Campa Sekarang.
Dari Sini Kita Mengenal Kerajaan Muara Kaman Kuno Yang Di Pimpin Oleh Raja Tan Pihatu Yang Juga Dapat Dikatakan Sebagai Tambo Suku Sejarah Melayu di Kalimantan Sejarah Raja Kuno terkait Dengan Cerita Jaman Lampau Yaitu Negeri Kembayat Senja Negeri Sekebun Bungan Di Tanah Kelantan Malaysia Sampai Kepada Cerita Tentang Para Raksasa Hanja Atau di Kenal Dengan Puak Mergasi Dan Di Kalangan Masyarakat Kalimantan Timur Memiliki Cerita Yang Sama Dengan Cerita Rakyat Di Malaysia Tentang Puak Mergasi Adalah Raksasa Yang Merupakan Manusia Purba di Kalimantan.
Neroyong Adalah Sebuah Seni Bersyair, Dalam Syair-Syair Ini Menceritakan Tentang Satu Kejadian Di Masa-Masa Tertentu Dalam Sebuah Neroyong Di Dapatkan Cerita Mengenai Sebuah Kerajaan Jauh Sebelum Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Lahir Dan Menjadi Maharaja Di Kota Muara Kaman. Dalam Sebuah Neroyong Bernama Negeri Bumbung Be Ratu Ada Seorang Tahani Atau Raja Bernama Tan Minak Samburakai Berputra Tan Mampi, Dan Tan Mampi Beristerikan Puan Anak Dari Tahani Atau Putri Raja Yang Kelak Melahirkan Anak Laki-Laki Bernama Tan Pihatu. Kisah Seorang Bernama Pihatu Sangat Tidak Asing Bagi Anak Suku Pedalaman, Sebagai Tokoh Seorang Raja Yang Memiliki Kecerdasan Dalam Membangun Perladangan Padi Dan Palawija Sehingga Rakyatnya Makmur.
Darisinilah Didapatkan Tata Cara Upacara Adat Berladang Padi Dalam Upacara Tersebut Di Mulai Dari Acara Nyahu Atau NGEMBA TUAH Mencari Tempat Untuk Berladang Yang Baik Dan Subur Dan Setelah Itu Di Lanjutkan Dengan NGEMBA NGARAI Yaitu Membersihkan Lahan Yang Telah Dianggap Baik Untuk Berladang, Dalam Upacara Ini Juga Dilakukan Membersihkan Saniang Remukut Atau Benih Padi Untuk Di Tanam.
Upacara Dilanjutkan Dengan Menulakan WANGKANG JONG Atau Kapal Yang Terbuat Dari Pelepah Pinang Yang Di Dalamnya Di Isi Dengan Sesaji Dan Di Larung Atau Di Hanyutkan Di Sungai Mahakam, Ditahun 1980 Hal Ini Masih Sering Kita Lihat Wangkang Jong Hanyut Di Sungai Mahakam Dan Sekarang Hal Itu Hamper Tidak Ada Lagi Karena Orang Berladang Sudah Berkurang Akibat Lahan Di Kuasai Perkebunan Sawit Dan Lainya. Disebuah Pondok Perladangan Oleh Orang Kutai Disebut Pondok Huma Di Buat Kerangking Besar Dari Kuit Kayu Dan Di Atasnya Di Ikatlah Padi Yang Masih Begeragai Yang Disebut Semengat Indu Remukut Yang Sewaktu Ngasak Nanam Padi Di Taruh Di Juhan Tunggal Dan Dilingkari Dengan Akar Makna Upacara Ini Menjauhkan Bala Yaitu Betuhing Sehingga Tidak Di Serang Hama Padi Sama Dengan Tetntang Wangkang Jong Adalah Tempat Menghanyutkan Hama Tanaman Bersama Dengan Makana Yang Tersedia Didalamnya.
Saat Panen Indu Remukut Di Taruh Di Dasar Kerangking Dipercaya Mengundang Semengat Padi Yang Nmasih Di Ladang Tidak Kepos (Maksudnya Tidak Kosong) Dan Memiliki Padi Yang Berkualitas Baik Dan Itulah Sekelumit Tentang Hal Neroyang Yang Juga Merupakan Bagian Dari Silsilah Ini Dan Mengenai Seorang Bernama Raja Tan Pihatu Beristeri Puan Putri Tumbau Berputra Tan Meretam, Dan Tan Meretam Berputrakan Tan Tembayat, Tan Tembayat Berputrakan Tan Seredang Yang Memiliki Anak Perempuan Bernama Puan Gamboh Alis Putri Gabok Yang Diperisteri Oleh Adik Raja Cam Bernama Cri Ga Dong Ga (Maharaja Sri Kundungga). Catatan Bahwa Gelar Tan Adalah Gelar Dalam Bangsawan Melayu Yang Diartikan Bahwa Tan Adalah Tuan Merupakan Sebutan Sangat Terhormat Kepada Raja Dan Puan Kepada Ratu Atau Putri Yang Sudah Menikah Jika Belum Menikah Disebut Dara atau Pidara (Bidara) Dan Laki Laki Disebut Teruna (Taruna), Dan Berlaku Pada Keturunannya Keturunanya.
Keterangan Lain Tentang Keberadaan Kerajaan Kota Perak Adalah Kerajaan Salakanegara di Padegelang Banten Dalam Catatan Ahli Geografi Yunani Kuno Bertahun 150 M, Ptolemeus. Ia Menulisnya Dengan Nama Argyre.
Kemiripan Dengan Tutur Didalam Hikayat Cerita Neroyong Ganda Kusuma, Didalam Neroyong Tersebut Dituturkan Bahwasanya Ga Dong Ga Adalah Saudara Raja Kota Perak (Kerajaan Salakanegara) Ternyata Ibu Kundungga Adalah Saudara Maharatu Atau Permaisuri Dari Raja Salakanegara Dan Juga Dihikayatkan Bahwa Kundungga adalah Adik Raja Negeri Gemilang Kaca Atau Oleh Orang China Menyebut Kerajaan Ini Dengan Nama Kerajaan Lin Yi Bangsa Cam, Adalah Kerajaan Campa.
Adapun Raja Negeri Gemilang Kaca Ini, Setelah Menjadi Raja Bergelar Radjendrawarma (Jaya Bharavarman I) Menjadi Raja Di Campa (Kambodia). Melahirkan Jaya Gangarajvarman I Disebut Dinasty Kandapurpura Yang Memberikan Hak Kuasa Dagang Kepada Saudaranya Untuk Menjadi Seorang Saudagar Dari Kerajaan Lin Yi Bangsa Cam, Bernama Ga Dong Ga Tersebut Yang Kemudian Dikenal Dengan Nama Maharaja Sri Kundungga Yang Kawin Dengan Anak Raja Malaya Di Kalimantan Bernama Putri Puan Gamboh Yang Melahirkan Putri Puan Gari Menurut Hikayat Putri Inilah Yang Kawin Dengan Wangsekerta, Atau Maharaja Acwawarman Putra Raja Salakanegara Dan Melahirkan Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Yang Menjadi Raja Di Muara Kaman Dalam Prasasti Yupa Disebut Raja Yang Kuat Seperti Api Sinarnya.
Jadi Awalnya Raja Kalimantan Kuno Adalah Penduduk Peribumi Bernama Bangsa Malay (Melayu Tua) Ras Proto dan Duntro Malay Terjadi Karena Bangsa Ini Menerima Kedatangan Dari Koloni Bangsa Cam Dan Bangsa Bharata Yang Membawa Pengaruh Agama Siwa Budha. Kerajaan di Muara Kaman dalam Sejarah Salakanegara di Sebut Kutanegara Kerajaan Bakulapura yang Berkembang Pesat Oleh Pedagang India Kerajaan Ini Disebut Quitaire Daerahnya Disebut Ratnadwivantara Sedangkan Pulaunya Disebut Naladwiva Dan Bandarnya Atau Ibukotanya Disebut Martapura.
Kerajaan Ini Telah Ada Sejak Tahun 17 Masehi, Dan Kerajaan Ini Menguasai Nusa-Nusa (Pulau-Pulau) Pada Waktu Wangsakarta Mengirim Panglima Perangya Kepenjuru Nusa Di Setiap Penjuru Sagara (Lautan) Panglima Perang Tersebut Dipimpin Oleh Tiga Orang Putra Wangsekerta Gelar Maharaja Sri Acwawarman Adapun Putra-Putranya Tiga Orang Antaranya Mahasenapati Wangseragen Yang Nantinya Menjadi Penguasa Sadiva Malaya Dengan Gelar Maharaja Sri Mulawarman Naladwipa. Dan Putra Kedua Bernama Mahasenopati Wangsejenjat Gelar Maharaja Dijayawarman Memperisteri Putri Raja Campa Dan Menjadi Raja Pula Di Campa (Kamboja Sekarang). Yang Menurunkan Dapunta Hiyang Raja Sriwidjaya (Sumatra Tahun 584) Dan Menurunkan Darma Setu.
Sedangkan Putra Ketiga Bernama Mahasenopati Wangseteku Gelar Maharaja Gunawarman, Yang Tinggal Di Kerajaan Salakanegara, Adalah Ayah Dari Wirawarman yang Menikah Dengan Dewi Candika Putri Maharaja Yudhadana (Raja Bawahan Tarumanagara Wilayah Medang Purwa 2 Dan Medang Giri). Kemudian, Dewi Candika Dengan Wirawarman Beranak Beberapa Orang, Dua Di Antaranya, Amudrawarman Dan Dewi Jwalita. Kemudian, Dewi Jwalita Dijadikan Permaisuri Oleh Sri Maharaja Purnawaraman Di Kerajaan Tarumanegara Pernikahan I Catatan Bahwa Gelar Tan Adalah Gelar Dalam Bangsawan Melayu Yang Diartikan Bahwa Tan Adalah Tuan Merupakan Sebutan Sangat Terhormat Kepada Raja Dan Puan Kepada Ratu Atau Putri Yang Sudah Menikah Jika Belum Menikah Disebut Dara atau Pidara (Bidara) Dan Laki Laki Disebut Teruna (Taruna), Dan Berlaku Pada Keturunannya Keturunanya.
Komentar
Posting Komentar